
Motif Konsumsi Alkohol Berkorelasi dengan Risiko dan Dampak Negatif
Diedit oleh: firstname lastname

Penelitian psikologis terkini menegaskan korelasi langsung antara kesadaran individu mengenai motif di balik konsumsi alkohol dengan frekuensi minum dan munculnya konsekuensi negatif yang merugikan. Studi mendalam telah mengidentifikasi empat profil motivasi minum yang berbeda di kalangan peminum, mencerminkan spektrum dari risiko tinggi hingga pengendalian diri yang terjaga.
Salah satu profil yang paling mengkhawatirkan adalah 'Peminum Tanpa Arah' (Aimless Drinkers), yang sering didominasi oleh partisipan pria, menunjukkan alasan minum yang kabur dan secara konsisten mengalami dampak negatif paling parah dari kebiasaan mereka. Profil lain, 'Peminum yang Dikontrol Secara Eksternal' (Externally Controlled Drinkers), menggunakan alkohol sebagai alat untuk membangun kepercayaan diri atau sebagai respons terhadap tekanan sosial, sebuah pola yang berkorelasi dengan penggunaan yang sering dan intensitas minum yang berat. Sebaliknya, 'Peminum Fleksibel' (Flexible Drinkers), kelompok terbesar, menunjukkan motif minum yang beragam namun umumnya mempertahankan tingkat konsumsi yang moderat.
Di sisi lain spektrum, 'Peminum Kenikmatan' (Pleasure Drinkers) termotivasi secara intrinsik dan cenderung minum secara moderat dengan sedikit efek samping negatif yang tercatat; profil ini lebih sering teramati pada peserta studi yang lebih tua. Penelitian oleh Cox dan Klinger mengkategorikan peminum berdasarkan motif seperti 'enchantment' (untuk semangat), 'coping' (mengatasi kekhawatiran), 'social' (perayaan), dan 'conformity' (penyesuaian sosial), di mana motif sosial sering menjadi alasan paling umum di kalangan dewasa muda.
Pemahaman mendalam tentang faktor-faktor pendorong ini, seperti keinginan untuk meningkatkan perasaan positif atau mengurangi perasaan negatif, menjadi landasan penting dalam memodelkan perilaku minum. Para pakar kesehatan menekankan bahwa mengenali dan memahami motivasi pribadi seseorang untuk minum adalah strategi peningkatan diri yang krusial untuk mengevaluasi kembali pola konsumsi alkohol. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setidaknya 3 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat minuman beralkohol, baik secara langsung maupun melalui penyakit yang ditimbulkannya, menyoroti urgensi masalah ini secara global.
Implikasi dari motivasi minum ini meluas hingga konsekuensi fisik yang serius. Konsumsi berlebihan secara kronis dapat menyebabkan kerusakan hati permanen, seperti sirosis, dan meningkatkan risiko pankreatitis karena kerusakan jaringan pankreas. Sebagai zat psikoaktif, alkohol memengaruhi sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan gangguan kognitif dan, pada kasus yang parah, memicu episode psikosis, halusinasi, dan delusi. Bagi mereka yang mengandalkan alkohol sebagai pelarian dari stres atau masalah hidup, lingkungan pergaulan eksternal seringkali menjadi pemicu utama selain faktor internal seperti rasa ingin tahu.
Kecanduan psikologis didefinisikan sebagai kebutuhan untuk menggunakan zat guna mengatasi masalah dan stres. Memahami profil motivasi—apakah itu untuk 'conformity' atau 'coping'—menjadi langkah awal yang esensial dalam intervensi dan pemulihan. Oleh karena itu, strategi pencegahan dan intervensi harus disesuaikan dengan profil motivasi yang teridentifikasi untuk mencapai efektivitas maksimal dalam mengurangi risiko kesehatan yang terkait dengan alkohol.
53 Tampilan
Sumber-sumber
bb.lv
Alcohol Clin Exp Res (Hoboken)
Medscape
Ipsos
The Lancet Public Health
SAMHSA
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



