Lonjakan Nomofobia pada Anak Mengindikasikan Pergeseran Perkembangan Emosional
Diedit oleh: Olha 12 Yo
Adopsi teknologi yang meluas sejak usia dini secara fundamental mengubah lanskap pengalaman emosional anak-anak, memicu peningkatan fenomena nomofobia, yaitu kecemasan yang timbul akibat keterpisahan dari perangkat digital mereka. Kondisi ini, yang didefinisikan sebagai ketakutan akan kehilangan kontak dengan gawai, merupakan manifestasi dari tekanan psikologis, kognitif, dan emosional yang nyata pada kaum muda. Penggunaan layar yang berlebihan terindikasi menggantikan interaksi dunia nyata dan proses adaptasi terhadap emosi yang sulit, sebuah isu yang mendapat sorotan serius dari para ahli psikologi.
Data terkini menunjukkan bahwa anak-anak dalam rentang usia 6 hingga 8 tahun kini menghabiskan rata-rata 3,28 jam sehari di depan perangkat elektronik, sebuah angka yang jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terutama bagi mereka yang berusia di bawah dua tahun. Peningkatan ini didorong oleh dominasi waktu bermain gim dan platform video pendek, yang kini mengambil alih peran tontonan televisi tradisional. Paparan digital yang masif ini berkorelasi negatif dengan perkembangan bahasa dan fungsi eksekutif, seperti kemampuan memecahkan masalah dan memori kerja.
Penelitian menunjukkan bahwa durasi bermain yang panjang dapat memengaruhi fungsi eksekutif, yang meliputi perencanaan dan pemantauan diri, sebuah area otak yang belum matang pada anak. Para pakar psikologi menekankan bahwa sistem penguatan dopamin diaktifkan oleh imbalan digital yang ditawarkan perangkat, menjadikannya pelarian instan dari rasa bosan dan frustrasi. Mekanisme intermittent reward pada gim, yang serupa dengan mesin slot kasino, secara neurologis sangat adiktif karena memicu pelepasan dopamin berulang, dan anak-anak usia sekolah dasar dinilai tidak memiliki kapasitas biologis untuk menolaknya.
Selain itu, paparan cahaya biru dari layar gawai dapat menekan kadar melatonin, hormon yang mendorong rasa kantuk, sehingga berdampak buruk pada kualitas tidur anak. Kekhawatiran ini diperkuat oleh temuan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan pada usia dini dapat menyebabkan kurangnya stimulasi aktif yang krusial untuk perkembangan otak dan mental optimal, bahkan berisiko memicu digital dementia atau penurunan kognitif akibat ketergantungan teknologi.
Sebagai respons terhadap isu pengasuhan digital ini, penanganan nomofobia memerlukan pendekatan multidimensi yang melibatkan edukasi, intervensi psikologis, dan upaya peningkatan interaksi sosial langsung antara anak dan orang tua untuk menumbuhkan pola penggunaan teknologi yang lebih sehat. Strategi pengelolaan yang efektif, menurut para profesional, mencakup penetapan zona bebas teknologi di rumah, melakukan aktivitas co-viewing konten bersama, dan orang tua harus menjadi model perilaku penggunaan perangkat yang teregulasi. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) juga menunjukkan upaya pemerintah dalam mendorong platform digital untuk menyediakan edukasi yang baik. Inti dari mengatasi tren ini adalah regulasi yang disadari dan promosi permainan tanpa struktur untuk memelihara kecerdasan emosional, memastikan bahwa teknologi tetap berfungsi sebagai alat, bukan pengalaman yang total dan mendominasi kehidupan anak.
27 Tampilan
Sumber-sumber
Agenda Digitale
Health Professionals For Safer Screens
2025 The Common Sense Census: Media Use by Kids Zero to Eight - beSpacific
03-02 2025 The Common Sense Census: Media Use By Kids Zero to Eight - Lynn's Warriors
Daniela Lucangeli agli Stati Generali della Scuola Digitale 2025
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



