Vidhu Vinod Chopra Kritik Budaya Pengaruh Instan di Festival Film Goa

Diedit oleh: Sergey Belyy1

Pembuat film terkemuka, Vidhu Vinod Chopra, menyulut perdebatan signifikan selama sesi masterclass di Festival Film Internasional India (IFFI) ke-56 yang diadakan di Goa. Sutradara yang dikenal melalui karya-karya seperti 3 Idiots ini secara terbuka mengkritik ekosistem ketenaran instan yang didorong oleh para social media influencer. Kritik Chopra menyoroti fenomena pengagungan popularitas dangkal di ranah digital, yang ia anggap bertentangan dengan nilai pencapaian otentik.

Chopra secara spesifik mempertanyakan mekanisme di balik perolehan jutaan pengikut oleh individu semata-mata melalui penampilan fisik atau sensasi sesaat, mengilustrasikannya dengan analogi 'menjatuhkan kemeja' yang dapat menarik jutaan pengikut. Ia menyatakan keheranannya bahwa merek-merek korporat kemudian menggandeng figur-figur ini untuk promosi produk, yang menurutnya menciptakan ilusi status yang tidak berdasar. Sutradara tersebut menekankan bahwa individu harus memilih antara mengejar ketenaran semu tersebut atau berjuang untuk kebahagiaan dan kepuasan sejati.

Dalam forum yang sama, Chopra juga menyampaikan pandangannya mengenai industri film kontemporer, mengkritik kecenderungan sinema masa kini yang dinilainya terlalu memprioritaskan presentasi visual di atas kedalaman narasi. Ia menegaskan bahwa film-filmnya selalu berupaya merefleksikan realitas sosial pada zamannya. Sebagai ilustrasi proses kreatif, Chopra membagikan anekdot mengenai restorasi 8K film klasiknya, 1942: A Love Story, dan bagaimana asistennya saat itu, Sanjay Leela Bhansali, pernah menaburkan remah roti untuk memancing burung demi sebuah adegan lagu.

Pernyataan Chopra memicu reaksi terpolarisasi di dunia maya. Meskipun banyak penonton dan kritikus seni mendukung pandangannya mengenai ketidakbermaknaan ketenaran digital yang cepat berlalu, sejumlah kreator konten memberikan pembelaan. Mereka berargumen bahwa membangun eksistensi dan audiens di platform digital memerlukan dedikasi dan kerja keras yang signifikan, menolak anggapan bahwa kesuksesan mereka datang tanpa usaha.

Kontroversi ini menyoroti pergeseran dinamika dalam industri hiburan, di mana metrik media sosial—seperti jumlah pengikut dan tingkat keterlibatan—kini menjadi pertimbangan penting, bahkan memengaruhi keputusan perekrutan aktor dalam proyek film. Beberapa pihak industri, seperti yang dicatat oleh Kapil Arora, menyebutkan bahwa agen pemeran kini secara rutin menanyakan data metrik media sosial, menggarisbawahi bagaimana pengaruh digital secara langsung membentuk peluang dalam dunia perfilman.

IFFI ke-56 di Goa menampilkan lebih dari 240 film dari 81 negara, termasuk 13 pemutaran perdana dunia, dan digambarkan sebagai pertemuan antara seni sinematik, budaya, dan teknologi. Sementara itu, industri film secara umum terus bergulat dengan isu representasi, seperti perdebatan seputar Islamofobia dalam beberapa produksi Bollywood yang menampilkan stereotip Muslim. Kritik dari tokoh sinema veteran seperti Chopra mengingatkan bahwa di tengah hiruk pikuk metrik digital, esensi penciptaan nilai dan pencapaian sejati tetap menjadi pilihan fundamental bagi setiap individu.

5 Tampilan

Sumber-sumber

  • Republic World

  • Mid-day

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.