
Jejak Alkohol dalam Produk Roti Picu Kekhawatiran Kesehatan dan Regulasi
Diedit oleh: firstname lastname

Kekhawatiran meluas mengenai jejak kadar alkohol yang terdeteksi dalam komoditas pangan olahan sehari-hari, khususnya roti dan kue. Kandungan etanol ini dapat muncul sebagai konsekuensi dari proses fermentasi alami selama produksi atau sebagai hasil aplikasi etanol yang disengaja sebagai agen pengawet. Isu ini menimbulkan pertimbangan signifikan, terutama di negara dengan populasi mayoritas Muslim seperti Indonesia, di mana Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan batasan toleransi kadar alkohol dalam makanan tidak boleh melebihi 0,5%, asalkan alkohol tersebut bukan berasal dari fermentasi yang bertujuan menghasilkan khamr.
Otoritas ritel di Swiss telah mengonfirmasi temuan kadar alkohol minimal dalam produk tersebut, menyatakan jumlah tersebut aman untuk konsumsi normal oleh masyarakat umum. Mereka juga mencatat bahwa etanol yang terperangkap sering kali menguap atau hilang sepenuhnya setelah kemasan dibuka atau ketika produk dipanaskan sebelum dikonsumsi. Namun, kelompok advokasi perlindungan konsumen menyuarakan peringatan mengenai potensi efek jangka panjang pada populasi anak-anak. Kekhawatiran utama mereka adalah paparan dini terhadap alkohol dapat secara tidak sadar menurunkan ambang batas inhibisi terhadap konsumsi alkohol di masa depan.
Kelompok konsumen mendesak transparansi yang lebih baik dalam pelabelan, menyoroti inkonsistensi antara penggunaan etanol sebagai pengawet versus penggunaannya sebagai pelarut untuk meningkatkan profil perasa atau aroma. Sebagai contoh, beberapa produk bakery tradisional, seperti kue Black Forest atau Sus Fla, dapat mengandung rhum dengan kadar alkohol bervariasi, bahkan mencapai 38 hingga 40% jika rhum asli digunakan. Para ahli dan organisasi pengawas makanan menekankan pentingnya pelabelan yang jelas untuk menginformasikan konsumen mengenai kandungan etanol, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan individu yang sedang hamil.
Lembaga seperti Addiction Switzerland telah mengeluarkan peringatan spesifik, menekankan bahwa bahkan dalam konsentrasi yang sangat kecil, paparan jejak alkohol dapat memicu risiko kambuh bagi individu yang sedang dalam masa pemulihan dari ketergantungan alkohol, melalui sensasi bau atau rasa yang mengingatkan pada alkohol. Kecanduan alkohol, yang oleh American Psychiatric Association (APA) dianggap sebagai gangguan kesehatan mental, dapat menyebabkan perubahan permanen pada fungsi otak. Oleh karena itu, para pakar di bidang regulasi pangan dan kesehatan masyarakat menganjurkan penerapan label peringatan yang lebih eksplisit di bagian depan kemasan produk yang mengandung etanol, sejalan dengan perkembangan regulasi pangan untuk perlindungan kesehatan publik yang komprehensif.
5 Tampilan
Sumber-sumber
Der Bund
Kassensturz Espresso
Verbraucherzentrale Brandenburg
Bäckerwelt
Kölner Stadt-Anzeiger
Verbraucherzentrale.de
Baca lebih banyak berita tentang topik ini:
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.



