Pada awal tahun 2025, Peru kembali menunjukkan dominasinya di pasar jeruk Amerika Selatan, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai eksportir jeruk terbesar ketujuh di dunia. Antara Januari hingga Mei 2025, Peru berhasil mengekspor lebih dari 100.000 ton jeruk, menandai peningkatan signifikan sebesar 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jeruk menyumbang porsi terbesar dari total volume ekspor, yaitu 62%, diikuti oleh jeruk nipis Tahiti sebesar 31%. Pertumbuhan ini didorong oleh upaya 129 perusahaan ekspor yang memperkuat kehadiran jeruk Peru di pasar internasional, serta kerja sama dalam pengendalian lalat buah berkat langkah-langkah fitosanitari dan penurunan suhu.
Meskipun demikian, industri jeruk Peru menghadapi berbagai tantangan. Perubahan iklim memengaruhi keseimbangan gula dan asam pada buah, yang krusial bagi kualitasnya. Ancaman penyakit seperti citrus greening (HLB) juga menjadi perhatian serius, seperti yang dilaporkan di Brasil dengan peningkatan insiden dari 24,42% pada tahun 2022 menjadi 44,35% pada tahun 2024. Di Peru, beberapa varietas seperti W. Murcott dilaporkan mengalami penurunan pembungaan, yang berpotensi memengaruhi ketersediaan buah di akhir musim. Selain itu, tingginya biaya logistik menjadi kendala dalam menjaga daya saing produk Peru di pasar global.
Untuk kampanye ekspor jeruk 2025, proyeksi tetap positif dengan perkiraan pertumbuhan kumulatif ekspor melambat menjadi sekitar 8% hingga 9% menjelang akhir kampanye. Model kompetitif jeruk Peru yang berlandaskan pada kualitas dan diferensiasi varietas telah terbentuk kuat. Masa depan keberlanjutan sektor ini sangat bergantung pada revitalisasi investasi di perkebunan serta penguatan akses pasar strategis, khususnya di Asia. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci bagi pertumbuhan Peru yang berkelanjutan di pasar global.



