Hutan hujan primer yang tersisa di Madagaskar, khususnya di Taman Nasional Lokobe di pulau Nosy Be, menunjukkan vitalitas ekologis yang signifikan seiring puncak musim hujan pada akhir Desember 2025. Kondisi iklim di kawasan ini ditandai oleh atmosfer yang sangat panas dan lembap, sering kali diiringi oleh badai sore yang intens, dengan suhu rata-rata berkisar antara 26 hingga 28 derajat Celsius. Pola cuaca ekstrem ini secara paradoks menopang kelimpahan keanekaragaman hayati yang endemik, termasuk primata penting seperti lemur hitam (*Eulemur macaco*) dan reptil terkecil di dunia, bunglon *Brookesia nana*.
Kelangsungan hidup habitat unik ini sangat bergantung pada upaya konservasi yang didukung oleh kemajuan manusia, menjadikannya tempat perlindungan terakhir bagi spesies yang tidak ditemukan di tempat lain. Akses ke jantung hutan ini merupakan sebuah proses yang terikat pada tradisi lokal, di mana pengunjung harus menempuh perjalanan menggunakan perahu tradisional pirogue melewati area bakau, menekankan ketergantungan pada moda transportasi lokal yang berdampak rendah terhadap lingkungan. Selain itu, sektor ekonomi lokal mendapatkan dorongan melalui pariwisata ekologis, di mana biaya pemandu ditetapkan relatif terjangkau, mendorong keterlibatan berkelanjutan dengan ekosistem yang rentan ini.
Secara global, terjadi pergeseran minat perjalanan yang nyata menuju pengalaman yang berfokus pada koneksi alam dan ekologi, sebuah tren yang selaras dengan perlindungan ketat di Lokobe. Sebagai contoh, pada Agustus 2025, Kielder Observatory di Britania Raya memperluas operasinya di dalam Northumberland International Dark Sky Park, kawasan langit gelap yang dilindungi terbesar di Eropa, untuk meningkatkan aksesibilitas astronomi bagi publik. Tren serupa terlihat di Jepang, di mana Semenanjung Kii menarik minat untuk praktik *shinrin yoku* (mandi hutan) di hutan cedar dan cemara kuno, menggarisbawahi pergeseran minat global menuju pengalaman restoratif yang mendalam di lingkungan alami.
Spesies endemik seperti *Eulemur macaco*, yang statusnya terdaftar sebagai Terancam Punah oleh IUCN, menghadapi ancaman serius dari fragmentasi habitat dan eksploitasi antropogenik; diperkirakan populasinya menurun lebih dari 50 persen selama tiga generasi. Sementara itu, *Brookesia nana*, yang jantan dewasanya memiliki panjang tubuh hanya 13,5 mm dari moncong ke lubang kloaka, merupakan contoh ekstrem miniaturisasi, dengan organ genitalnya yang relatif besar mencapai 18,5% dari panjang tubuhnya saat diregangkan. Penemuan spesies sekecil ini di hutan pegunungan utara Madagaskar, meskipun habitatnya tertekan oleh deforestasi, menunjukkan bahwa penetapan kawasan lindung baru sangat krusial untuk kelangsungan hidupnya.
Tren ekowisata ini menegaskan bahwa pengalaman otentik di alam, seperti yang ditawarkan oleh Lokobe, menjadi pendorong utama dalam industri perjalanan pasca-pandemi, bergeser dari pariwisata massal menuju perjalanan yang bertanggung jawab dan memberikan dampak positif bagi komunitas lokal dan lingkungan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, lebih dari 70% wisatawan Gen Z dan milenial mempertimbangkan aspek keberlanjutan saat memilih destinasi. Pemulihan sektor pariwisata di berbagai belahan dunia, seperti peningkatan kunjungan wisatawan nusantara di Kabupaten Garut, Indonesia, yang mencapai sekitar 6,56 juta perjalanan pada Januari hingga Oktober 2025, meningkat lebih dari 25% dari periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh daya tarik wisata alam dan ekowisata.



